5,5 detik tarik, 5,5 detik embus, sekitar 5,5 napas per menit. Gelombang lambat dan rata untuk sesi panjang yang tenang dan fokus.
Napas koheren memperlambat napas menjadi sedikit di atas lima napas per menit, dengan tarikan dan embusan yang sama panjang tanpa jeda. Tujuannya bukan sekadar bersantai, melainkan mencapai ritme fisiologis yang stabil saat napas dan detak jantung naik turun bersama. Istilah ini dipopulerkan oleh Stephen Elliott, lalu oleh psikiater Richard Brown dan Patricia Gerbarg yang mengajarkannya dalam program pernapasan mereka.
Napas koheren paling cocok untuk latihan panjang yang tidak terburu-buru: rutinitas pagi, menenangkan diri di malam hari, atau waktu tetap di samping meditasi. Karena butuh beberapa menit untuk mapan, pola ini lebih efektif sebagai kebiasaan harian daripada alat darurat; untuk pemulihan cepat, desah fisiologis lebih gesit. Sebagian orang berpindah antara HRV 5, napas koheren, dan HRV 6 untuk menemukan tempo yang paling alami.
Pola ini bertumpu pada riset biofeedback variabilitas detak jantung, termasuk karya Paul Lehrer dan rekan-rekannya yang menunjukkan bahwa setiap orang memiliki laju napas resonansi, biasanya sekitar 4,5 hingga 6,5 napas per menit, ketika ayunan detak jantung paling besar. Napas koheren memakai laju tetap dalam rentang tersebut. Sejumlah studi mengaitkan latihan rutin dengan variabilitas detak jantung yang lebih tinggi dan stres yang dirasakan lebih rendah, tetapi banyak di antaranya berskala kecil, dan latihan ini tidak menggantikan perawatan medis.
Lakukan sambil duduk atau berbaring; jangan pernah di air atau saat mengemudi. Berhenti jika pusing.
Sesi yang panjang bisa membuat kepala ringan jika Anda bernapas berlebihan. Jaga napas lembut alih-alih dalam, dan berhentilah bila pusing atau merasa tidak enak.